Lumajang, 6 September 2026 – Kebakaran hutan dan lahan di kawasan Gunung Semeru, Jawa Timur, masih membutuhkan penanganan intensif setelah api menyebar ke sejumlah bagian kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Data BNPB mencatat area terbakar yang teridentifikasi mencapai sekitar 1.888,91 hektare, terutama di sekitar Blok Ranukembang, Desa Ranupane, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, hingga wilayah barat Ranu Kumbolo yang secara administratif masuk Kabupaten Malang. Sementara pendataan BPBD Kabupaten Lumajang sebelumnya mencatat cakupan kawasan terdampak secara keseluruhan mencapai sekitar 3.072 hektare, sehingga perbedaan angka tersebut berkaitan dengan cakupan dan waktu pendataan. Tim gabungan terus melakukan pemadaman, pembasahan, serta pemantauan terhadap titik api yang masih ditemukan. Medan pegunungan yang terjal dan angin kencang menjadi tantangan utama dalam proses penanganan. Hingga perkembangan terakhir tidak terdapat laporan korban jiwa maupun warga yang terdampak langsung akibat kebakaran tersebut. Pendakian Gunung Semeru juga masih ditutup sementara demi keselamatan masyarakat dan wisatawan.
Kebakaran di kawasan Semeru pertama kali dilaporkan pada Rabu, 26 Agustus 2026 dan belum sepenuhnya dapat dikendalikan hingga awal September. Titik kebakaran ditemukan di sejumlah lokasi, termasuk kawasan Ranukembang, Pos 1 jalur pendakian, serta area di sebelah barat Ranu Kumbolo. Pergerakan api kemudian meluas karena vegetasi kering dan kondisi angin yang cukup kuat di kawasan pegunungan. Pemantauan melalui udara menggunakan helikopter sebelumnya mendeteksi sedikitnya tiga titik api di sekitar Ranu Kumbolo. Petugas juga menemukan titik api dan kepulan asap di beberapa bagian jalur pendakian yang membutuhkan pembasahan berulang. Kondisi tersebut membuat operasi pemadaman tidak dapat dilakukan hanya dalam satu tahap karena bara dapat kembali menyala ketika terkena angin. Tim gabungan karena itu terus melakukan penyisiran terhadap kawasan yang sebelumnya telah dipadamkan untuk mencegah munculnya titik api baru.
Penanganan kebakaran dilakukan melalui jalur darat dan udara sesuai kondisi medan. Personel darat menggunakan peralatan seperti gepyok, jet shooter, dan blower untuk memadamkan api serta melakukan pembasahan pada kawasan yang dapat dijangkau. Sekat bakar juga dibuat untuk menghambat pergerakan api menuju vegetasi yang belum terbakar. Dalam operasi sebelumnya, helikopter PK-DAP milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur digunakan untuk melakukan water bombing pada kawasan yang sulit dicapai personel. Helikopter tersebut sempat melakukan 21 kali penyiraman dengan total sekitar 21 ribu liter air. Dukungan udara menjadi penting karena sejumlah titik berada pada lereng terjal yang membutuhkan perjalanan panjang apabila dijangkau melalui darat. Namun, operasi helikopter kemudian menghadapi kendala pada sistem kelistrikan dan perangkat bucket sehingga pemadaman udara belum dapat dimaksimalkan. Selama perbaikan berlangsung, personel darat tetap melanjutkan pemadaman dan pembuatan sekat untuk menahan perluasan api.
Medan di sekitar kawasan kebakaran menjadi salah satu hambatan terbesar yang dihadapi petugas. Beberapa titik berada di tebing dengan tingkat kemiringan tinggi sehingga tidak aman untuk langsung didekati. Sebagian lokasi hanya dapat dicapai dengan berjalan kaki melalui jalur pegunungan yang membutuhkan waktu dan kondisi fisik prima. Kabut tebal yang muncul pada waktu tertentu juga dapat mengurangi jarak pandang dan menyulitkan pemantauan. Selain itu, angin kencang berpotensi membawa percikan api menuju vegetasi kering di kawasan lainnya. Kondisi cuaca yang berubah cepat membuat strategi pemadaman harus terus disesuaikan dengan situasi lapangan. Keselamatan personel tetap menjadi prioritas sehingga tim tidak dipaksakan memasuki lokasi yang mempunyai risiko terlalu tinggi. Pemantauan dari titik aman kemudian digunakan untuk menentukan jalur yang memungkinkan dilalui ketika kondisi membaik.
Kawasan Ranu Kumbolo menjadi salah satu wilayah yang mendapatkan perhatian besar dalam penanganan kebakaran. Berdasarkan pendataan BPBD Kabupaten Lumajang hingga 1 September, area Ranu Kumbolo yang terdampak mencapai sekitar 1.887,07 hektare. Angka tersebut merupakan bagian dari cakupan kawasan TNBTS yang terdampak berdasarkan pendataan pada periode tersebut. Sementara BNPB dalam pembaruan berikutnya menyebut luas area terbakar yang masih dalam pendataan mencapai sekitar 1.888,91 hektare. Perbedaan data tersebut menunjukkan proses penghitungan luasan kebakaran masih terus berlangsung dan dapat berubah setelah verifikasi lapangan maupun pemetaan dilakukan. Pemerintah tidak hanya menghitung area yang terlihat terbakar, tetapi juga perlu menentukan batas pasti kawasan yang benar-benar terdampak. Data final nantinya penting untuk menentukan kebutuhan pemulihan ekosistem setelah kebakaran berhasil dikendalikan.
Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru telah menutup seluruh aktivitas pendakian Gunung Semeru sejak 26 Agustus 2026. Penutupan dilakukan untuk mencegah pendaki memasuki kawasan yang berpotensi terkena pergerakan api maupun asap. Kebijakan tersebut masih berlaku hingga batas waktu yang belum ditentukan dan akan dievaluasi berdasarkan kondisi kebakaran. Tidak terdapat pendaki di kawasan Ranu Kumbolo ketika operasi penanganan dilakukan. Petugas meminta masyarakat tidak mencoba memasuki jalur pendakian selama kawasan masih ditutup meskipun hanya untuk melihat kondisi kebakaran. Aktivitas petugas dan kendaraan penanganan juga membutuhkan ruang agar operasi dapat berjalan tanpa gangguan. Pembukaan kembali jalur nantinya baru dapat dipertimbangkan setelah titik api dinyatakan terkendali dan kondisi kawasan dinilai aman. Pemeriksaan terhadap jalur pendakian juga diperlukan karena kebakaran dapat merusak vegetasi maupun struktur tanah di sejumlah lokasi.
Tim yang menangani kebakaran melibatkan berbagai unsur, mulai dari BPBD Provinsi Jawa Timur, BPBD Kabupaten Lumajang, petugas TNBTS, TNI, Polri, Manggala Agni, hingga relawan. Koordinasi dilakukan untuk membagi wilayah operasi berdasarkan akses dan tingkat risiko masing-masing lokasi. Personel yang berada di lapangan melakukan penyisiran, pemadaman langsung, pembasahan, dan pemantauan terhadap kemungkinan bara tersembunyi. Kebakaran di kawasan pegunungan mempunyai karakter berbeda dengan kebakaran di lahan datar karena arah api dapat berubah mengikuti lereng dan angin. Vegetasi kering juga memungkinkan api bergerak cepat sebelum petugas berhasil menjangkau lokasi. Karena itu, keberhasilan memadamkan api yang terlihat belum otomatis berarti suatu kawasan sepenuhnya aman. Pembasahan lanjutan diperlukan untuk memastikan bara di bawah serasah dan material kering tidak kembali berkembang menjadi kebakaran.
Kebakaran Semeru berlangsung bersamaan dengan karhutla yang terjadi di sejumlah kawasan pegunungan lain di Jawa Timur. BNPB mencatat kebakaran juga terjadi di kawasan Gunung Wilis di Kabupaten Nganjuk dan Kediri, Gunung Ungup-Ungup di perbatasan Banyuwangi dan Bondowoso, Gunung Arjuno-Welirang di Kabupaten Pasuruan, serta Bukit Sariwani di Kabupaten Probolinggo. Di Gunung Wilis, area yang terbakar sementara diperkirakan sekitar lima hektare di Nganjuk dan 11 hektare di Kediri. Sementara kebakaran Gunung Ungup-Ungup yang meluas menuju Bondowoso diperkirakan mencapai sekitar 20 hektare. Kondisi tersebut menyebabkan sumber daya penanganan kebakaran hutan di Jawa Timur harus dikoordinasikan di beberapa wilayah sekaligus. Penutupan sementara kawasan wisata juga diberlakukan di beberapa lokasi untuk mengurangi risiko terhadap pengunjung. Pemerintah daerah bersama instansi terkait terus melakukan pemantauan karena kondisi musim kering meningkatkan kerentanan vegetasi terhadap kebakaran.
Selain memadamkan api, perhatian berikutnya akan diarahkan pada dampak ekologis kebakaran terhadap kawasan konservasi Semeru. Luasnya area yang terdampak membuat evaluasi terhadap vegetasi, habitat satwa, kondisi tanah, dan sumber air perlu dilakukan setelah keadaan memungkinkan. Tidak seluruh kawasan yang dilewati kebakaran mengalami tingkat kerusakan yang sama karena intensitas api berbeda pada setiap lokasi. Sebagian vegetasi dapat mengalami kerusakan ringan, sedangkan area yang terbakar dengan intensitas tinggi membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih. Pemetaan pascakebakaran diperlukan untuk menentukan apakah pemulihan dapat berlangsung secara alami atau membutuhkan intervensi tambahan. Pengelola taman nasional juga perlu memperhatikan potensi erosi pada kawasan yang kehilangan tutupan vegetasi ketika memasuki musim hujan. Pemulihan ekosistem karena itu menjadi pekerjaan lanjutan setelah operasi pemadaman selesai. Data luasan final akan menjadi dasar penting untuk menentukan skala penanganan tersebut.
BNPB mengimbau masyarakat di sekitar kawasan hutan dan pegunungan untuk tidak melakukan kegiatan yang berpotensi memicu kebakaran. Pembukaan lahan menggunakan api harus dihindari karena percikan dapat dengan cepat menyebar ketika vegetasi berada dalam kondisi kering dan angin bertiup kuat. Warga juga diminta segera melaporkan apabila melihat titik api atau kepulan asap sehingga penanganan dapat dilakukan sebelum kebakaran berkembang lebih luas. Untuk kawasan Semeru, fokus petugas masih diarahkan pada pengendalian titik api, pembasahan, pembuatan sekat bakar, serta pemantauan daerah yang sulit dijangkau. Pendakian akan tetap ditutup selama kondisi belum dinyatakan aman oleh pengelola. Luas area terdampak juga masih dapat diperbarui setelah proses pemetaan dan verifikasi selesai dilakukan. Tim gabungan akan melanjutkan operasi dengan mempertimbangkan kondisi medan, cuaca, arah angin, dan keselamatan personel agar kebakaran tidak kembali meluas.