Jakarta, 2 September 2026 – Wisatawan asal Jepang dinilai sebagai turis paling sopan di dunia berdasarkan survei terbaru yang melibatkan pelaku industri pariwisata. Survei tersebut menempatkan Jepang di posisi teratas dengan 21,1 persen penyebutan dari operator tur yang menjadi responden. Norwegia berada di posisi berikutnya dengan 10,6 persen, disusul Swiss sebesar 10,4 persen. Hasil ini menunjukkan bahwa perilaku wisatawan ketika berinteraksi dengan masyarakat lokal maupun penyedia jasa menjadi salah satu aspek yang turut membentuk pengalaman perjalanan. Indonesia sendiri tidak masuk dalam posisi teratas dalam survei tersebut.
Survei dilakukan oleh SafariBookings, sebuah platform pemesanan tur safari di Afrika, dengan melibatkan 192 operator tur. Para responden diminta memberikan penilaian mengenai sejumlah karakteristik wisatawan berdasarkan pengalaman mereka selama menangani turis dari berbagai negara. Selain kategori wisatawan paling sopan, penelitian tersebut juga melihat siapa yang paling dermawan dalam memberikan tip, paling banyak mengeluarkan uang, paling aktif dan suka berpetualang, serta paling tertarik terhadap kuliner. Dengan demikian, hasil survei tidak hanya menggambarkan kesopanan, tetapi juga berbagai karakter wisatawan berdasarkan pengamatan pelaku pariwisata.
Jepang memperoleh 21,1 persen penyebutan dalam kategori turis paling sopan. Posisi tersebut membuat wisatawan Jepang unggul cukup jauh dibandingkan Norwegia dan Swiss yang masing-masing mendapatkan 10,6 persen dan 10,4 persen. Kanada dan Amerika Serikat kemudian berada di kelompok berikutnya dalam daftar wisatawan yang dinilai memiliki tata krama baik. Sementara itu, wisatawan Italia memperoleh 1,3 persen penyebutan dalam kategori tersebut. Hasil ini tentu merupakan persepsi responden dalam survei dan tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa seluruh wisatawan dari suatu negara memiliki perilaku yang sama.
Kesopanan wisatawan dapat terlihat dari berbagai perilaku ketika seseorang berada di negara lain. Menghormati aturan setempat, menjaga kebersihan, berbicara dengan sopan kepada masyarakat lokal dan menghargai budaya merupakan beberapa hal yang dapat memengaruhi pengalaman interaksi selama perjalanan. Wisatawan Jepang selama ini juga kerap dikaitkan dengan kebiasaan menjaga ketertiban dan menghormati ruang publik. Namun, penilaian dalam survei tersebut tetap merupakan hasil pengamatan operator tur, bukan ukuran mutlak mengenai karakter setiap individu.
Survei yang sama juga menunjukkan bahwa Amerika Serikat menempati posisi pertama dalam kategori wisatawan yang paling banyak memberikan tip. Turis Amerika memperoleh 29,5 persen penyebutan dari operator tur, jauh di atas Jerman dengan 13,1 persen, Kanada 10 persen dan Swiss 8,6 persen. Dalam kategori wisatawan dengan pengeluaran terbesar selama perjalanan, Amerika Serikat kembali berada di posisi pertama dengan 24 persen. Jerman dan Kanada masing-masing memperoleh 12,8 persen dalam kategori tersebut. Temuan ini memperlihatkan bahwa karakter wisatawan dapat berbeda-beda tergantung aspek yang dinilai.
Untuk kategori wisatawan paling suka berpetualang, Jerman berada di posisi pertama dengan 21,1 persen. Prancis menyusul dengan 17,8 persen, sedangkan Belanda memperoleh 11 persen. Wisatawan dari Inggris dan India masing-masing mendapatkan 4,5 persen, sementara Spanyol berada di angka 4,3 persen. Penilaian tersebut berkaitan dengan kecenderungan wisatawan memilih aktivitas yang lebih aktif dan eksploratif ketika melakukan perjalanan. Preferensi wisatawan tentu juga dapat dipengaruhi oleh jenis destinasi, usia, kondisi perjalanan dan tujuan liburan.
Sementara itu, wisatawan yang bepergian dengan tujuan utama menikmati makanan didominasi negara-negara Asia. India berada di posisi pertama, Jepang menempati posisi kedua dan China berada di posisi keempat. Prancis berada di urutan ketiga dengan 12,4 persen, sedangkan Belanda menempati posisi kelima dengan 7,7 persen. Italia berada tepat di bawahnya dengan selisih sangat tipis, yakni 7,6 persen. Hasil tersebut memperlihatkan bahwa ketertarikan terhadap kuliner menjadi salah satu karakter yang menonjol dalam perjalanan wisata internasional.
Bagi industri pariwisata, persepsi mengenai perilaku wisatawan dapat menjadi informasi menarik dalam memahami kebutuhan pasar. Wisatawan yang dinilai sopan, gemar berinteraksi secara positif dan menghargai budaya lokal dapat menciptakan pengalaman yang lebih baik bagi dirinya maupun masyarakat di destinasi. Namun, hasil survei seperti ini sebaiknya dipahami sebagai gambaran berdasarkan responden tertentu, bukan sebagai label permanen terhadap suatu bangsa. Setiap wisatawan tetap memiliki karakter dan kebiasaan masing-masing.
Survei tersebut pada akhirnya menempatkan Jepang sebagai negara dengan wisatawan yang paling banyak dinilai sopan oleh operator tur yang berpartisipasi. Norwegia dan Swiss menyusul di posisi berikutnya, sementara negara lain unggul dalam kategori berbeda seperti pemberian tip, pengeluaran, petualangan dan wisata kuliner. Temuan ini menunjukkan bahwa pengalaman perjalanan tidak hanya ditentukan oleh destinasi yang dikunjungi, tetapi juga perilaku wisatawan ketika berada di dalamnya. Bagi siapa pun yang bepergian ke luar negeri, menghormati budaya lokal, mengikuti aturan dan menjaga tata krama tetap menjadi bagian penting dari perjalanan yang menyenangkan.