Jakarta, 12 September 2026 – Presiden Amerika Serikat Donald Trump meminta Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menghentikan serangan terhadap fasilitas produksi dan distribusi bahan bakar diesel Rusia. Permintaan tersebut muncul setelah serangkaian serangan jarak jauh Ukraina terhadap kilang minyak Rusia dalam beberapa bulan terakhir menekan kapasitas produksi bahan bakar negara itu. Trump menilai dampak serangan tersebut tidak hanya dirasakan Rusia, tetapi mulai memengaruhi ketersediaan diesel di pasar internasional. Harga diesel di Amerika Serikat bahkan telah menembus rata-rata lebih dari 6 dollar AS per galon di tengah ketatnya pasokan global. Trump mengaku telah membicarakan persoalan tersebut secara langsung dengan Zelensky dan meminta Ukraina memilih sasaran lain. Pernyataan itu muncul ketika perang Rusia-Ukraina tetap berlangsung dengan kedua negara terus melakukan serangan udara dan drone.
Trump menegaskan dirinya tidak meminta Ukraina menghentikan seluruh operasi militernya terhadap Rusia. Permintaannya secara khusus diarahkan pada serangan terhadap kilang dan infrastruktur yang berkaitan dengan produksi diesel. Menurut Trump, masih terdapat sasaran lain yang dapat dipilih Ukraina tanpa memperburuk kondisi pasokan bahan bakar dunia. Ia mengaitkan serangan terhadap fasilitas energi Rusia dengan berkurangnya ketersediaan diesel yang digunakan secara luas oleh truk, kapal, kereta api, alat pertanian, dan berbagai kegiatan industri. Kondisi tersebut membuat kenaikan harga diesel berpotensi meningkatkan biaya transportasi dan distribusi barang. Tekanan harga kemudian dapat menjalar ke berbagai sektor ekonomi dan akhirnya dirasakan konsumen.
Ukraina selama beberapa bulan terakhir meningkatkan penggunaan drone jarak jauh untuk menyerang fasilitas energi di wilayah Rusia. Kilang minyak menjadi salah satu sasaran karena memiliki peran penting dalam menyediakan bahan bakar sekaligus menghasilkan pendapatan bagi perekonomian Rusia. Kyiv berpendapat fasilitas tersebut merupakan sasaran yang sah karena industri energi ikut mendukung kemampuan Moskow menjalankan perang. Serangan telah menyebabkan gangguan pada sejumlah fasilitas dan memberikan tekanan terhadap pasokan bahan bakar Rusia. Moskow bahkan mengambil langkah membatasi ekspor diesel setelah kebutuhan domestiknya mengalami tekanan. Berkurangnya ekspor dari salah satu produsen energi utama dunia kemudian ikut memengaruhi keseimbangan pasokan internasional.
Persoalan menjadi semakin rumit karena pasar energi dunia pada saat bersamaan menghadapi gangguan dari kawasan Timur Tengah. Arus minyak melalui Selat Hormuz mengalami tekanan akibat konflik dan meningkatnya risiko keamanan terhadap pelayaran. Infrastruktur energi Arab Saudi juga menghadapi gangguan setelah serangan terhadap jalur pipa strategis East-West. Kombinasi berbagai faktor tersebut membuat pasokan minyak mentah dan produk hasil pengilangan berada dalam kondisi lebih ketat. Karena itu, berkurangnya produksi diesel Rusia memberikan tekanan tambahan ketika pasar global sudah menghadapi ketidakpastian. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pemerintahan Trump memberikan perhatian terhadap serangan Ukraina pada fasilitas pengilangan Rusia.
Diesel memiliki posisi strategis dalam perekonomian karena digunakan pada banyak sektor yang berkaitan langsung dengan rantai pasok. Truk pengangkut barang membutuhkan diesel untuk membawa produk dari pusat produksi menuju gudang dan toko. Kapal dan sejumlah sistem transportasi juga menggunakan bahan bakar tersebut, sementara sektor pertanian membutuhkannya untuk mengoperasikan berbagai mesin. Ketika harga diesel meningkat tajam, biaya operasional perusahaan dapat ikut bertambah. Sebagian biaya tersebut pada akhirnya dapat diteruskan kepada konsumen melalui kenaikan harga barang dan jasa. Pemerintah Amerika karena itu memiliki kepentingan untuk mencegah gangguan pasokan berkembang menjadi tekanan inflasi yang lebih besar.
Permintaan Trump kepada Zelensky muncul di tengah upaya Washington menghidupkan kembali proses diplomasi untuk mengakhiri perang. Utusan Amerika telah melakukan pembicaraan dengan Ukraina maupun Rusia untuk mencari kemungkinan langkah deeskalasi. Namun, perkembangan di medan konflik menunjukkan kedua pihak masih melanjutkan operasi militer. Rusia tetap melancarkan serangan terhadap berbagai wilayah Ukraina, termasuk infrastruktur energi dan transportasi. Ukraina pada saat yang sama berusaha meningkatkan tekanan terhadap Rusia melalui serangan jarak jauh. Perbedaan kepentingan tersebut membuat upaya mencapai penghentian pertempuran tetap menghadapi tantangan besar.
Bagi Ukraina, penghentian serangan terhadap kilang Rusia dapat menjadi persoalan strategis karena fasilitas energi dipandang memiliki hubungan dengan kemampuan perang Moskow. Pendapatan dari sektor minyak dan gas merupakan salah satu sumber penting bagi ekonomi Rusia. Selain itu, bahan bakar dibutuhkan untuk mendukung aktivitas militer dan logistik. Serangan terhadap fasilitas tersebut dirancang untuk meningkatkan biaya yang harus ditanggung Rusia selama perang berlangsung. Karena itu, permintaan Washington dapat memunculkan perdebatan mengenai keseimbangan antara kebutuhan Ukraina mempertahankan tekanan militer dan kepentingan menjaga stabilitas energi global. Belum diketahui sejauh mana Kyiv akan menyesuaikan strategi serangannya setelah permintaan Trump.
Di sisi lain, Rusia masih melakukan serangan besar terhadap Ukraina menggunakan drone dan rudal. Infrastruktur energi Ukraina menjadi salah satu sektor yang berulang kali mengalami kerusakan selama konflik. Kyiv menghadapi tantangan menjaga pasokan listrik dan energi ketika musim dingin mendekat. Ukraina juga terus meminta tambahan sistem pertahanan udara dari negara-negara mitra untuk melindungi kota dan fasilitas penting. Situasi tersebut menjadi bagian dari alasan Kyiv mempertahankan hak melakukan serangan terhadap sasaran yang dinilai mendukung operasi Rusia. Perang energi antara kedua negara dengan demikian berlangsung bersamaan dengan pertempuran militer di berbagai wilayah.
Pernyataan Trump juga memperlihatkan semakin besarnya pengaruh persoalan energi terhadap kebijakan Amerika dalam perang Rusia-Ukraina. Ketika dampak konflik mulai tercermin pada harga bahan bakar domestik, Washington menghadapi tekanan untuk mencari langkah yang dapat menstabilkan pasar. Harga diesel yang tinggi dapat memengaruhi biaya logistik dan menjadi perhatian masyarakat Amerika. Pemerintahan Trump karena itu berusaha mendorong pengurangan serangan terhadap fasilitas yang dianggap berkontribusi terhadap kekurangan pasokan. Namun, langkah tersebut tetap harus berhadapan dengan kenyataan bahwa Rusia dan Ukraina memiliki perhitungan militer masing-masing. Diplomasi energi akhirnya menjadi semakin berkaitan dengan upaya diplomasi penghentian perang.
Permintaan Trump agar Zelensky menghentikan serangan terhadap fasilitas diesel Rusia menandai perkembangan baru dalam hubungan Washington dan Kyiv di tengah perang yang belum berakhir. Trump menilai serangan tersebut telah memberikan konsekuensi lebih luas terhadap pasokan dan harga bahan bakar dunia sehingga Ukraina sebaiknya memilih sasaran lain. Kyiv, sementara itu, memandang sektor energi Rusia sebagai bagian penting dari kemampuan ekonomi dan militer Moskow. Situasi menjadi semakin kompleks karena pasar energi global juga menghadapi gangguan dari Timur Tengah dan jalur perdagangan strategis. Keputusan Ukraina mengenai kelanjutan serangan terhadap kilang Rusia karena itu berpotensi memiliki dampak tidak hanya terhadap jalannya perang, tetapi juga pasar energi internasional. Washington kini berusaha menyeimbangkan dukungan terhadap keamanan Ukraina dengan kepentingan mencegah konflik memberikan tekanan ekonomi yang semakin besar terhadap masyarakat dunia.