Jakarta, 20 September 2026 – PT Pelayaran Nasional Indonesia (Persero) atau Pelni memperkuat budaya keselamatan di seluruh armadanya dengan meningkatkan kesiapan awak kapal dalam menghadapi berbagai kondisi darurat. Penguatan dilakukan melalui pelatihan tanggap risiko, evaluasi operasional, serta peningkatan pemahaman terhadap prosedur keselamatan. Sekretaris Perusahaan Pelni Ditto Pappilanda menegaskan keselamatan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan operasional perusahaan. Kesiapan awak dinilai menjadi faktor penting karena kondisi darurat di laut membutuhkan respons cepat dan koordinasi yang baik. Program tersebut mencakup kapal penumpang maupun kapal perintis yang dioperasikan Pelni.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah penyelenggaraan Fleet Safety Excellence Award 2026 sebagai bagian dari evaluasi sekaligus penguatan budaya keselamatan. Program ini diarahkan untuk mendorong setiap kapal dan awak menerapkan standar keselamatan secara konsisten dalam kegiatan operasional. Penilaian tidak hanya melihat kesiapan teknis kapal, tetapi juga kemampuan personel dalam memahami risiko dan menjalankan prosedur ketika menghadapi situasi darurat. Evaluasi tersebut diharapkan dapat menemukan bagian yang masih perlu diperbaiki sebelum muncul kondisi sebenarnya di lapangan. Pelni menempatkan kegiatan keselamatan sebagai proses berkelanjutan yang harus menjadi kebiasaan seluruh awak kapal.
Penguatan kesiapsiagaan juga dilakukan melalui Workshop Safety Training di atas KM Bukit Raya pada pelayaran rute Jakarta-Kijang pada 16–18 September 2026. Kegiatan bertema “Kesiapan Awak Kapal dalam Menghadapi Situasi Darurat” tersebut memberikan pembekalan mengenai tugas dan tanggung jawab awak ketika terjadi keadaan darurat. Koordinasi antara nakhoda, perwira dan seluruh awak menjadi salah satu materi penting dalam pelatihan. Setiap personel harus memahami lokasi penugasan, jalur komunikasi serta tindakan yang menjadi tanggung jawabnya berdasarkan muster list. Pelatihan juga digunakan untuk menguji apakah prosedur yang telah ditetapkan dapat diterapkan secara efektif dalam situasi sebenarnya.
Direktur Perkapalan dan Kepelautan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan Samsuddin menekankan keselamatan pelayaran merupakan sebuah sistem yang saling berkaitan. Kapal yang laik harus didukung awak yang kompeten, peralatan yang andal, prosedur yang jelas serta dukungan manajemen. Karena itu, keberadaan perangkat keselamatan saja tidak cukup apabila awak tidak mampu mengoperasikannya secara tepat. Latihan rutin diperlukan untuk memastikan setiap personel memahami langkah yang harus dilakukan ketika terjadi gangguan atau keadaan darurat. Koordinasi antarpersonel menjadi semakin penting karena keputusan dalam kondisi tersebut sering kali harus dilakukan dalam waktu singkat.
Pada kapal penumpang, kemampuan menghadapi kondisi darurat juga mencakup pengelolaan dan perlindungan terhadap penumpang. Awak harus mampu memberikan instruksi secara jelas sekaligus mengarahkan penumpang menuju titik aman apabila terjadi keadaan yang mengharuskan evakuasi. Perhatian khusus diperlukan bagi anak-anak, lanjut usia, penyandang disabilitas serta penumpang dengan keterbatasan mobilitas. Pelatihan karena itu tidak hanya menguji kemampuan mengatasi sumber bahaya, tetapi juga komunikasi dan koordinasi dalam proses penyelamatan. Setiap kekurangan yang ditemukan selama simulasi kemudian perlu dievaluasi dan ditindaklanjuti.
Pelni sebelumnya juga menjalankan simulasi penanganan keadaan darurat atau Top Drill di sejumlah wilayah operasional. Di Ambon, misalnya, kegiatan tersebut melibatkan koordinasi antara manajemen pusat, kantor cabang hingga petugas di lapangan dan awak di atas kapal. Simulasi menjadi sarana untuk mengukur kecepatan penyampaian informasi serta kemampuan setiap unsur menjalankan perannya. Pola latihan semacam ini membantu perusahaan mengetahui potensi kendala sebelum menghadapi kejadian sebenarnya. Hasil evaluasi selanjutnya dapat digunakan untuk memperbaiki prosedur, meningkatkan kesiapan peralatan dan memperkuat koordinasi operasional.
Penguatan budaya keselamatan tersebut diharapkan membuat standar kesiapsiagaan menjadi bagian dari aktivitas rutin seluruh awak kapal Pelni. Perusahaan dan regulator menilai latihan harus dilaksanakan secara berkelanjutan karena kondisi operasional di laut dapat berubah dengan cepat dan menghadirkan risiko berbeda. Kompetensi awak, kesiapan peralatan, prosedur yang mudah dipahami serta koordinasi yang efektif menjadi unsur yang harus berjalan bersamaan. Pelni juga terus menempatkan keselamatan sebagai prioritas dalam menjaga layanan transportasi laut di berbagai wilayah Indonesia. Melalui pelatihan dan evaluasi yang konsisten, awak kapal diharapkan semakin siap memberikan perlindungan kepada penumpang ketika menghadapi situasi darurat.