Jakarta, 14 September 2026 – Rapper Amerika Serikat Macklemore mendapatkan gelombang dukungan dari sejumlah musisi, selebritas, dan aktivis internasional setelah dicoret dari rangkaian konser Amerika Serikat dalam Loop Tour milik Ed Sheeran. Dukungan tersebut muncul setelah Macklemore tidak lagi menjadi penampil pembuka menyusul pernyataan pro-Palestina yang disampaikannya ketika tampil di MetLife Stadium, New Jersey, pada awal September. Aktivis iklim Greta Thunberg menjadi salah satu figur yang menyuarakan dukungan terhadap rapper pelantun “Thrift Shop” tersebut. Selain Thunberg, dukungan juga datang dari Kneecap, Bob Vylan, Garbage, aktris Hannah Einbinder, serta sejumlah figur lain. Kontroversi berkembang menjadi perdebatan lebih luas mengenai kebebasan berekspresi, solidaritas terhadap Palestina, dan batas penyampaian pesan politik dalam konser berskala besar. Macklemore sendiri menegaskan bahwa dirinya tetap mempertahankan sikapnya meskipun keputusan tersebut membawa konsekuensi terhadap perjalanan profesionalnya.
Persoalan bermula setelah Macklemore tampil sebagai salah satu penampil pembuka dalam konser Ed Sheeran di MetLife Stadium. Dalam penampilannya, rapper tersebut kembali menyampaikan dukungan terhadap Palestina dan menyerukan “Free Palestine” di hadapan penonton. Macklemore memang telah beberapa tahun menggunakan panggung dan musiknya untuk menyampaikan pandangan mengenai konflik di Gaza, termasuk melalui lagu protes “Hind’s Hall” yang dirilis pada 2024. Pernyataannya di panggung kemudian menimbulkan reaksi dari sejumlah kelompok yang menilai sebagian pesan dan rekam jejak retorikanya telah menyinggung komunitas Yahudi. Kontroversi semakin berkembang ketika sejumlah pengelola stadion disebut keberatan apabila Macklemore tetap tampil dalam rangkaian tur berikutnya. Situasi tersebut akhirnya membuat keterlibatannya dalam sejumlah konser Amerika Serikat dihentikan.
Macklemore sebelumnya dijadwalkan tampil dalam sejumlah pertunjukan tersisa pada rangkaian tur Amerika Serikat Ed Sheeran. Namun, promotor menyatakan terdapat beberapa stadion yang tidak bersedia menggelar konser apabila Macklemore tetap berada dalam daftar penampil. Salah satu pihak yang menonjol dalam kontroversi tersebut adalah pemilik Gillette Stadium dan New England Patriots, Robert Kraft, yang selama ini aktif dalam kampanye melawan antisemitisme. Macklemore menyebut tekanan dari pemilik venue menjadi faktor yang memengaruhi keputusan mengenai keterlibatannya dalam tur. Di sisi lain, Kraft menekankan bahwa dukungan terhadap masyarakat Palestina tidak seharusnya dilakukan dengan cara yang dianggap merugikan atau menyakiti komunitas Yahudi. Perbedaan pandangan tersebut membuat persoalan yang semula berkaitan dengan susunan penampil konser berkembang menjadi perdebatan publik yang jauh lebih luas.
Setelah kabar pencoretan tersebut muncul, dukungan terhadap Macklemore berdatangan dari kalangan seniman dan aktivis. Greta Thunberg termasuk figur yang memberikan dukungan terhadap keberanian Macklemore menggunakan panggungnya untuk membicarakan kondisi masyarakat Palestina. Grup rap Irlandia Kneecap juga menyampaikan solidaritas kepada Macklemore, sementara Bob Vylan dan sejumlah musisi lainnya mengambil posisi serupa. Dukungan tersebut memperlihatkan bahwa isu Palestina masih menjadi salah satu persoalan yang memunculkan perbedaan sikap kuat di industri hiburan internasional. Sejumlah pendukung Macklemore menilai seniman memiliki hak untuk menggunakan popularitasnya dalam menyuarakan isu kemanusiaan dan politik yang dianggap penting. Sebaliknya, kritik tetap muncul dari pihak yang menilai sejumlah pernyataan Macklemore telah melewati batas kritik terhadap pemerintah Israel dan dianggap menyinggung komunitas Yahudi.
Macklemore membantah bahwa dukungannya terhadap Palestina didorong oleh sentimen terhadap masyarakat Yahudi. Ia menegaskan kritik yang disampaikannya diarahkan terhadap tindakan pemerintah Israel dan situasi kemanusiaan yang terjadi di Gaza, bukan terhadap identitas agama maupun etnis tertentu. Rapper asal Seattle tersebut juga menyatakan pesan yang ingin dibawanya berkaitan dengan perdamaian, kesetaraan, martabat, dan hak asasi manusia. Meski demikian, kontroversi terhadap sejumlah pernyataannya bukan hal baru dan telah berlangsung selama beberapa tahun terakhir. Sejumlah organisasi Yahudi sebelumnya mengkritik retorika dan simbol yang pernah digunakan Macklemore serta menilainya memiliki unsur antisemitisme. Macklemore menolak penilaian tersebut dan mempertahankan bahwa kritik terhadap kebijakan Israel tidak dapat secara otomatis disamakan dengan kebencian terhadap masyarakat Yahudi.
Ed Sheeran kemudian turut memberikan penjelasan setelah namanya menjadi pusat kritik akibat pencoretan Macklemore. Penyanyi asal Inggris tersebut menyatakan keputusan itu bukan semata-mata keputusan pribadinya, melainkan berkaitan dengan promotor dan pengelola tempat konser yang keberatan terhadap keterlibatan Macklemore. Sheeran mengatakan dirinya berusaha melakukan mediasi dengan berbagai pihak, tetapi tidak berhasil menemukan solusi yang memungkinkan Macklemore tetap tampil dalam jadwal yang dipersoalkan. Ia juga menegaskan tetap menghormati Macklemore sebagai seniman serta haknya menentukan materi yang ingin disampaikan ketika berada di atas panggung. Hubungan personal keduanya diketahui telah berlangsung selama bertahun-tahun sehingga kontroversi tersebut memiliki dimensi yang lebih kompleks dibandingkan sekadar hubungan antara penyanyi utama dan penampil pembuka. Macklemore sendiri menyatakan tidak ingin persoalan tersebut mengakhiri persahabatannya dengan Sheeran.
Dukungan yang diberikan Greta Thunberg dan sejumlah figur publik kemudian membuat tekanan terhadap keputusan pencoretan Macklemore semakin besar di ruang digital. Sebagian penggemar mempertanyakan keputusan promotor dan menganggap langkah tersebut sebagai pembatasan terhadap ekspresi politik seorang musisi. Sebagian lainnya justru mendukung tindakan pengelola venue dengan alasan penyelenggara memiliki tanggung jawab memastikan konser dapat berlangsung tanpa pesan yang dinilai menyinggung kelompok tertentu. Perbedaan respons tersebut memperlihatkan rumitnya posisi penyelenggara konser ketika penampilan musik bersinggungan langsung dengan konflik geopolitik. Konser berskala stadion melibatkan banyak pihak mulai dari artis, promotor, pengelola venue, sponsor, perusahaan keamanan, hingga puluhan ribu pemegang tiket. Keputusan mengenai seorang penampil karena itu dapat dipengaruhi berbagai pertimbangan di luar hubungan personal antara musisi.
Macklemore selama beberapa tahun terakhir dikenal sebagai salah satu musisi Amerika yang paling terbuka menyuarakan dukungan terhadap Palestina. Pada 2024, ia merilis “Hind’s Hall”, lagu yang terinspirasi dari gerakan mahasiswa pro-Palestina dan mengambil nama Hind Rajab, anak Palestina yang meninggal di Gaza. Ia juga tampil dalam sejumlah kegiatan yang menyuarakan gencatan senjata dan perlindungan terhadap warga sipil. Sikap tersebut membuat Macklemore memperoleh dukungan dari kelompok pro-Palestina sekaligus kritik keras dari pihak yang menilai sejumlah pernyataannya bermasalah. Kontroversi dalam Loop Tour memperlihatkan bahwa pilihan politik tersebut kini memberikan konsekuensi langsung terhadap kesempatan profesionalnya. Macklemore menyatakan dirinya memahami adanya konsekuensi tersebut, tetapi tidak ingin menghentikan advokasinya hanya untuk mempertahankan kesempatan tampil.
Kasus tersebut juga menunjukkan bagaimana perang dan krisis kemanusiaan di Timur Tengah terus memberikan dampak terhadap industri hiburan internasional. Musisi semakin sering menghadapi tuntutan untuk menentukan sikap terhadap konflik, sementara keputusan untuk berbicara maupun tetap diam sama-sama dapat memicu kritik. Beberapa seniman memilih menyampaikan pandangan secara terbuka, sedangkan lainnya berusaha menjaga panggung mereka tetap berfokus pada musik. Perbedaan pendekatan tersebut tidak selalu berarti para musisi memiliki pandangan yang sepenuhnya berlawanan mengenai penderitaan warga sipil. Sheeran, misalnya, menyatakan dirinya melihat konflik Israel-Palestina sebagai tragedi kemanusiaan dan menekankan keinginannya menciptakan ruang konser yang aman serta inklusif. Kontroversi Macklemore menunjukkan sulitnya mempertahankan keseimbangan tersebut ketika pesan politik disampaikan dalam pertunjukan dengan audiens sangat besar.
Gelombang dukungan dari Greta Thunberg, Kneecap, Bob Vylan, Garbage, Hannah Einbinder, dan sejumlah figur lainnya membuat pencoretan Macklemore dari rangkaian tur Ed Sheeran tidak berhenti sebagai persoalan internal penyelenggara konser. Peristiwa tersebut berkembang menjadi perdebatan internasional mengenai kebebasan berekspresi, tanggung jawab seniman, antisemitisme, serta solidaritas terhadap warga Palestina. Macklemore tetap mempertahankan sikapnya dan menegaskan bahwa konsekuensi profesional tidak akan membuatnya berhenti menyuarakan isu yang dianggap penting. Pada saat bersamaan, pihak yang mengkritiknya tetap meminta agar dukungan terhadap Palestina tidak disertai retorika yang mereka anggap menyakiti komunitas Yahudi. Ed Sheeran berusaha mengambil posisi yang menekankan penghormatan terhadap Macklemore sekaligus menjelaskan keterbatasannya menghadapi keputusan promotor dan pengelola stadion. Kontroversi tersebut diperkirakan terus menjadi perhatian selama Loop Tour berlangsung karena telah membuka kembali perdebatan mengenai seberapa jauh panggung musik dapat digunakan sebagai ruang untuk menyampaikan sikap terhadap konflik politik dan kemanusiaan.