Jakarta, 2 September 2026 – Suasana Stasiun Karet di Jakarta Pusat berubah drastis setelah resmi berhenti melayani aktivitas naik dan turun penumpang KRL Commuter Line mulai 1 September 2026. Stasiun yang sebelumnya setiap hari dipenuhi pekerja dan pengguna transportasi publik itu kini terlihat jauh lebih sepi dibandingkan hari-hari sebelumnya. Tidak lagi tampak antrean penumpang di gerbang masuk maupun kerumunan pengguna yang menunggu kereta di peron. Kereta Commuter Line masih melintas di jalur Stasiun Karet, tetapi tidak berhenti untuk menaikkan maupun menurunkan penumpang. Seluruh aktivitas pelayanan pengguna yang sebelumnya dilakukan di Karet dialihkan menuju Stasiun Sudirman Baru atau BNI City. Perubahan tersebut menjadi bagian dari pekerjaan integrasi kedua stasiun yang dilakukan untuk meningkatkan pelayanan dan menata kawasan transportasi di pusat Jakarta. Kondisi ini sekaligus menandai perubahan besar bagi Stasiun Karet yang selama bertahun-tahun menjadi salah satu titik mobilitas penting bagi masyarakat di kawasan Tanah Abang dan sekitarnya.
Sehari setelah pelayanan penumpang dihentikan, area Stasiun Karet tidak lagi menunjukkan kesibukan yang selama ini menjadi pemandangan rutin pada pagi maupun sore hari. Sejumlah bagian stasiun mulai masuk dalam proses pekerjaan integrasi, sementara akses penumpang diarahkan menuju fasilitas baru yang terhubung dengan BNI City. Peron yang biasanya dipenuhi pengguna menunggu kedatangan kereta kini praktis tidak digunakan untuk aktivitas penumpang. Papan informasi dan pengaturan akses juga disesuaikan untuk mengarahkan masyarakat menuju Stasiun BNI City. Perubahan tersebut cukup terasa terutama bagi pengguna yang telah bertahun-tahun menjadikan Karet sebagai stasiun keberangkatan maupun tujuan perjalanan sehari-hari. Sebagian pengguna sebelumnya memilih Karet karena lokasinya dekat dengan kawasan perkantoran, permukiman, dan pusat kegiatan ekonomi di sekitar Jalan KH Mas Mansyur. Setelah pelayanan dialihkan, mereka harus menyesuaikan kebiasaan perjalanan dan memperhitungkan tambahan waktu berjalan menuju BNI City. Masa transisi tersebut menjadi periode penting bagi operator untuk memastikan masyarakat memahami pola akses yang baru.
Pengalihan pelayanan dilakukan setelah KAI menyelesaikan sejumlah fasilitas pendukung untuk menghubungkan kawasan Karet dengan Stasiun BNI City. Penumpang yang sebelumnya menggunakan Stasiun Karet kini dapat berjalan melalui selasar pedestrian menuju pintu masuk BNI City dengan jarak sekitar 500 meter. Sebagian jalur pejalan kaki telah dilengkapi kanopi untuk memberikan perlindungan kepada pengguna dari panas maupun hujan selama perjalanan. Papan penunjuk arah juga dipasang pada sejumlah titik agar penumpang dapat mengetahui jalur menuju kawasan Karet maupun BNI City. Di sisi barat BNI City, fasilitas gerbang elektronik, loket, dan hall telah digunakan untuk menampung peningkatan jumlah pengguna setelah pengalihan layanan. Penataan tersebut diperlukan karena BNI City kini menerima tambahan penumpang yang sebelumnya menggunakan Karet. Pada jam sibuk, peningkatan arus pengguna menjadi tantangan karena sebagian besar penumpang datang dan pergi dalam rentang waktu yang hampir bersamaan. Operator karena itu perlu memastikan jalur pedestrian dan fasilitas stasiun memiliki kapasitas yang cukup selama proses integrasi berlangsung.
Stasiun BNI City sendiri mengalami peningkatan aktivitas sejak hari pertama menggantikan fungsi pelayanan penumpang KRL dari Karet. Banyak pengguna terlihat keluar melalui sisi barat kemudian berjalan menyusuri selasar menuju kawasan Karet dan sekitarnya. Sebaliknya, penumpang yang sebelumnya biasa memasuki Stasiun Karet harus berjalan menuju BNI City sebelum dapat melewati gerbang elektronik dan mencapai peron. Pola perjalanan tersebut membutuhkan penyesuaian karena jarak berjalan kaki menjadi lebih panjang bagi sebagian pengguna. Penumpang yang membawa barang, lansia, penyandang disabilitas, maupun masyarakat dengan keterbatasan mobilitas membutuhkan fasilitas yang memadai agar perpindahan tidak menjadi beban tambahan. Kondisi jalur pedestrian juga perlu dijaga karena akan digunakan ribuan orang setiap hari selama integrasi berlangsung. Penerangan, perlindungan dari cuaca, keamanan, serta petunjuk arah menjadi unsur penting untuk memberikan kenyamanan. Evaluasi terhadap pola pergerakan pengguna pada minggu-minggu awal dapat membantu menentukan fasilitas tambahan yang dibutuhkan.
Penghentian pelayanan di Stasiun Karet merupakan bagian dari pekerjaan integrasi dengan Stasiun Sudirman Baru/BNI City yang berlangsung mulai September hingga akhir Desember 2026. Integrasi diarahkan untuk menyatukan pelayanan dan meningkatkan efisiensi operasional di kawasan yang memiliki beberapa stasiun dalam jarak relatif dekat. BNI City sebelumnya telah melayani pengguna KRL sehingga secara operasional stasiun tersebut memiliki fasilitas yang dapat dikembangkan untuk menampung perpindahan pengguna dari Karet. Penggabungan pelayanan diharapkan menciptakan sistem perjalanan yang lebih terintegrasi sekaligus mempermudah penataan arus penumpang di kawasan Dukuh Atas dan sekitarnya. Namun, keberhasilan integrasi tetap sangat bergantung pada kemudahan akses dari wilayah yang sebelumnya dilayani Stasiun Karet. Jarak antarfasilitas mungkin terlihat relatif pendek dalam perencanaan, tetapi pengalaman pengguna dapat berbeda ketika perjalanan dilakukan setiap hari pada jam sibuk atau ketika kondisi cuaca kurang mendukung. Karena itu, kualitas jalur penghubung menjadi sama pentingnya dengan fasilitas yang tersedia di dalam stasiun. Penataan kawasan perlu memastikan integrasi menghasilkan perjalanan yang lebih nyaman dan bukan sekadar memindahkan titik naik dan turun penumpang.
Bagi para pengguna lama, perubahan fungsi Stasiun Karet membawa kesan tersendiri karena stasiun tersebut telah menjadi bagian dari perjalanan harian masyarakat selama bertahun-tahun. Ribuan pekerja sebelumnya turun di Karet pada pagi hari sebelum melanjutkan perjalanan menuju gedung perkantoran di sekitar Tanah Abang, Karet Tengsin, dan kawasan bisnis Jalan Jenderal Sudirman. Pada sore hari, pola tersebut berbalik ketika penumpang kembali memenuhi peron untuk pulang menuju berbagai kawasan Jabodetabek. Aktivitas pedagang dan transportasi lokal di sekitar pintu keluar juga ikut terbentuk mengikuti pergerakan pengguna KRL. Setelah pelayanan dihentikan, pola keramaian tersebut otomatis bergeser mengikuti titik keluar-masuk penumpang di BNI City. Perubahan arus manusia dapat memberikan dampak terhadap pelaku usaha kecil maupun layanan transportasi yang selama ini bergantung pada penumpang Stasiun Karet. Mereka perlu menyesuaikan lokasi maupun pola pelayanan agar tetap dapat menjangkau pengguna. Dampak tersebut menunjukkan perubahan sebuah stasiun tidak hanya memengaruhi perjalanan kereta, tetapi juga aktivitas ekonomi yang berkembang di sekitarnya.
Stasiun Karet memiliki sejarah panjang dalam jaringan perkeretaapian Jakarta dan telah beroperasi sejak masa kolonial. Lokasinya berada di kawasan strategis yang kemudian berkembang menjadi salah satu pusat bisnis utama ibu kota. Seiring perkembangan Jakarta, jumlah pengguna transportasi publik meningkat dan kebutuhan integrasi antarmoda menjadi semakin besar. Kehadiran BNI City yang memiliki fasilitas lebih luas kemudian membuka peluang untuk menata kembali pelayanan kereta di kawasan tersebut. Jarak yang relatif dekat antara Karet, BNI City, dan Sudirman menjadi salah satu pertimbangan dalam pengembangan sistem stasiun yang lebih terintegrasi. Pemerintah dan operator ingin mengurangi fragmentasi pelayanan sekaligus memberikan akses yang lebih baik menuju berbagai moda transportasi lain di kawasan Dukuh Atas. Kawasan tersebut saat ini menjadi salah satu pusat integrasi transportasi terbesar di Jakarta dengan keberadaan KRL, MRT, LRT Jabodebek, TransJakarta, dan moda transportasi lainnya. Penataan Stasiun Karet dengan demikian menjadi bagian dari transformasi lebih luas terhadap sistem mobilitas di pusat kota.
Meski demikian, sejumlah pengguna menyampaikan keluhan mengenai tambahan jarak berjalan setelah pelayanan dipindahkan menuju BNI City. Pengguna yang sebelumnya dapat langsung keluar dari Stasiun Karet menuju tempat kerja kini harus menempuh perjalanan tambahan melalui selasar. Tambahan beberapa ratus meter dapat terasa cukup signifikan bagi penumpang yang melakukan perjalanan setiap hari, terutama setelah menempuh perjalanan KRL dalam kondisi padat. Situasi menjadi lebih menantang ketika hujan turun atau suhu udara sedang tinggi. Keberadaan kanopi pada sebagian jalur membantu mengurangi persoalan tersebut, tetapi masyarakat berharap seluruh akses dapat dibuat semakin nyaman. Tempat beristirahat, pencahayaan, keamanan, serta jalur yang ramah bagi penyandang disabilitas juga menjadi fasilitas yang penting diperhatikan. Masukan pengguna pada tahap awal dapat menjadi bahan evaluasi bagi operator selama pekerjaan integrasi masih berlangsung. Perbaikan kecil pada akses pedestrian dapat memberikan dampak besar karena jalur tersebut digunakan berulang kali oleh penumpang setiap hari.
Di sisi lain, pemusatan pelayanan di BNI City berpotensi meningkatkan efisiensi apabila fasilitas dan kapasitas stasiun dapat dikelola dengan baik. Penumpang memiliki akses lebih dekat menuju berbagai moda transportasi yang terhubung dengan kawasan Dukuh Atas sehingga perjalanan lanjutan dapat dilakukan menggunakan pilihan yang lebih beragam. Integrasi antarmoda menjadi salah satu strategi penting untuk meningkatkan penggunaan transportasi publik dan mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi. Namun, integrasi tidak cukup hanya membuat berbagai moda berada dalam kawasan yang sama karena perpindahan antarstasiun harus dapat dilakukan dengan mudah. Waktu berjalan, kualitas trotoar, informasi perjalanan, serta keamanan menentukan apakah masyarakat benar-benar merasakan manfaat integrasi. Operator juga perlu memperhitungkan lonjakan pengguna di BNI City agar tidak muncul kepadatan baru pada gerbang maupun peron. Pengaturan arus masuk dan keluar dapat disesuaikan berdasarkan evaluasi jumlah penumpang pada jam sibuk. Dengan pengelolaan yang tepat, perubahan tersebut berpotensi membuat sistem perjalanan di pusat Jakarta menjadi lebih sederhana dan terhubung.
Kini Stasiun Karet memasuki fase yang berbeda setelah tidak lagi menjadi tempat penumpang melakukan aktivitas naik dan turun KRL. Suara kereta masih terdengar ketika rangkaian melintas, tetapi suasana peron tidak lagi dipenuhi penumpang seperti sebelumnya. Area yang dahulu sibuk kini menjadi bagian dari lokasi pekerjaan integrasi dan penataan fasilitas. Perubahan tersebut memberikan gambaran nyata mengenai transformasi sistem transportasi Jakarta yang terus berlangsung mengikuti kebutuhan mobilitas masyarakat. Bagi sebagian pengguna, kondisi baru membutuhkan waktu untuk membentuk kebiasaan perjalanan yang berbeda. Operator juga masih memiliki pekerjaan memastikan jalur penghubung mampu menampung pergerakan pengguna secara aman dan nyaman sepanjang hari. Pengawasan pada jam sibuk diperlukan untuk melihat apakah terdapat titik yang mengalami penumpukan maupun hambatan arus. Selama periode pembangunan, informasi mengenai perubahan akses juga harus terus disampaikan agar pengguna baru maupun penumpang yang jarang menggunakan rute tersebut tidak mengalami kebingungan.
Perubahan Stasiun Karet pada akhirnya menjadi babak baru bagi pelayanan KRL di kawasan pusat Jakarta. Sejak 1 September 2026, seluruh aktivitas naik dan turun penumpang telah beralih menuju Stasiun BNI City sehingga peron Karet yang sebelumnya ramai kini terlihat lengang. Penumpang masih dapat menuju kawasan Karet dengan berjalan melalui selasar pedestrian sekitar 500 meter dari BNI City. Pekerjaan integrasi direncanakan berlangsung hingga akhir Desember 2026 dan selama periode tersebut pola perjalanan masyarakat akan terus mengalami penyesuaian. Tantangan terbesar adalah memastikan tambahan jarak tidak mengurangi kenyamanan dan aksesibilitas pengguna transportasi publik. Fasilitas pedestrian, papan petunjuk, penerangan, keamanan, serta perlindungan terhadap cuaca perlu terus dievaluasi berdasarkan kondisi lapangan. Pada saat yang sama, peningkatan kapasitas BNI City diharapkan dapat menciptakan pelayanan yang lebih terintegrasi dengan jaringan transportasi lain di kawasan Dukuh Atas. Stasiun Karet mungkin tidak lagi dipenuhi penumpang seperti dahulu, tetapi kawasan tersebut tetap menjadi bagian penting dari perjalanan transformasi transportasi publik Jakarta.