Jakarta, 31 Agustus 2026 – Bilal Hasan membuka perjalanan di UFC dengan sangat meyakinkan setelah meraih kemenangan KO atas Nilson Rojas dalam debutnya di kelas terbang atau flyweight. Kemenangan tersebut membuat rekor profesional Bilal menjadi 10-0 dan semakin memperbesar perhatian terhadap masa depannya di divisi 125 pound. Petarung yang membawa nama Indonesia itu sebelumnya mendapatkan kontrak UFC setelah menghentikan Mridul Saikia hanya dalam 45 detik pada Dana White’s Contender Series. Kini, setelah berhasil melewati ujian debut, Bilal harus menghadapi persaingan yang jauh lebih berat jika ingin masuk ke jajaran petarung papan atas. Divisi flyweight sendiri dikenal sebagai salah satu kelas yang memiliki banyak petarung muda dengan kemampuan komplet dan persaingan antarpesaing yang sangat rapat.
Saat ini, sabuk juara kelas terbang UFC berada di tangan Joshua Van. Petarung asal Myanmar tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana seorang pendatang baru dapat melaju dengan sangat cepat apabila mampu menjaga konsistensi kemenangan. Van merebut gelar setelah mengalahkan Alexandre Pantoja dan kemudian berhasil mempertahankan sabuknya ketika menghadapi Tatsuro Taira. Usianya yang masih relatif muda membuatnya menjadi salah satu figur penting dalam generasi baru kelas flyweight. Keberhasilan Van juga menjadi gambaran bagi Bilal bahwa jalur menuju perebutan gelar terbuka bagi petarung muda, tetapi membutuhkan aktivitas bertanding dan kemenangan beruntun yang konsisten.
Di belakang Van terdapat sejumlah nama besar yang menjadi pesaing serius dalam perebutan posisi teratas. Alexandre Pantoja masih menjadi salah satu petarung paling berpengalaman di divisi tersebut setelah sebelumnya memegang sabuk juara. Manel Kape, Tatsuro Taira, Brandon Royval, Kyoji Horiguchi, dan Kai Kara-France juga berada dalam kelompok petarung yang memiliki kemampuan untuk sewaktu-waktu masuk ke dalam pembicaraan perebutan gelar. Mereka bukan hanya memiliki pengalaman bertanding di level tinggi, tetapi juga telah menghadapi lawan-lawan dengan karakter permainan yang beragam. Kehadiran nama-nama tersebut membuat perjalanan Bilal menuju papan atas tidak akan berlangsung dengan mudah.
Tatsuro Taira menjadi salah satu nama yang menarik untuk diperhatikan karena usianya masih muda tetapi telah memiliki pengalaman menghadapi petarung papan atas. Petarung Jepang tersebut dikenal memiliki kemampuan grappling yang kuat dan mampu mengombinasikannya dengan permainan berdiri. Kekalahan dari Joshua Van dalam perebutan gelar sebelumnya tentu menjadi bagian dari proses perkembangan kariernya. Jika Taira kembali mendapatkan kemenangan beruntun, ia berpotensi kembali berada dalam antrean perebutan sabuk. Situasi seperti ini menunjukkan bahwa Bilal nantinya harus siap menghadapi petarung dengan gaya bertarung yang berbeda-beda ketika mulai mendekati peringkat 15 besar.
Brandon Royval juga menjadi ancaman yang tidak bisa dianggap ringan. Pengalaman Royval di UFC membuat dirinya memiliki pemahaman yang sangat baik terhadap ritme pertandingan kelas flyweight. Ia mempunyai kemampuan menyerang dari berbagai posisi dan dikenal berbahaya ketika pertarungan masuk ke area grappling. Selain kemampuan teknik, pengalaman menghadapi lawan elite juga menjadi keunggulan yang belum tentu dimiliki oleh pendatang baru seperti Bilal. Jika Bilal ingin mencapai papan atas, kemungkinan besar ia harus melewati lawan-lawan dengan pengalaman serupa dalam beberapa pertandingan berikutnya.
Kyoji Horiguchi merupakan nama lain yang menambah kedalaman persaingan kelas terbang. Pengalaman panjang Horiguchi di level tertinggi membuatnya menjadi salah satu petarung yang memiliki kemampuan teknis lengkap. Ia mampu bertarung dalam tempo tinggi dan mempunyai pengalaman menghadapi sejumlah petarung terbaik sepanjang perjalanan kariernya. Kehadiran Horiguchi menunjukkan bahwa divisi ini tidak hanya dipenuhi petarung muda, tetapi juga masih memiliki veteran yang dapat menjadi penghalang bagi generasi baru. Bagi Bilal, menghadapi petarung berpengalaman seperti Horiguchi akan menjadi ujian besar apabila ia berhasil menembus peringkat yang lebih tinggi.
Kai Kara-France juga berada dalam kelompok petarung yang harus diperhitungkan. Petarung asal Selandia Baru tersebut memiliki pengalaman panjang di UFC dan dikenal mempunyai kemampuan striking yang agresif. Kecepatan tangan dan pergerakannya dapat menjadi masalah bagi lawan yang tidak mampu menjaga jarak dengan baik. Bilal sendiri memiliki kemampuan striking yang menjadi salah satu kekuatan utamanya, sehingga duel dengan petarung seperti Kara-France nantinya dapat menjadi ujian menarik. Pertarungan semacam itu akan menguji apakah Bilal mampu mempertahankan keunggulan teknik ketika berhadapan dengan striker berpengalaman.
Di luar nama-nama papan atas, kelas flyweight juga memiliki banyak petarung muda yang sedang berusaha naik peringkat. Lone’er Kavanagh, Amir Albazi, Asu Almabayev, Ramazan Temirov, Brandon Moreno, Sumudaerji, dan Rei Tsuruya merupakan beberapa nama yang berada dalam persaingan menuju posisi lebih tinggi. Mereka memiliki karakter bertarung yang berbeda sehingga membuat peta divisi semakin sulit diprediksi. Beberapa di antaranya mengandalkan striking, sementara yang lain memiliki dasar grappling atau kemampuan submission yang kuat. Kondisi tersebut membuat Bilal harus mempersiapkan diri menghadapi berbagai jenis gaya bertarung apabila ingin terus naik dalam daftar peringkat.
Menariknya, Bilal saat ini masih berada di luar peringkat resmi 15 besar. Dalam salah satu pemetaan peringkat terbaru setelah UFC Shanghai, Bilal mulai masuk radar persaingan tetapi masih membutuhkan beberapa kemenangan tambahan untuk benar-benar berada di jajaran elite. Posisi tersebut sangat wajar mengingat dirinya baru menjalani satu pertandingan di UFC. Kemenangan atas Nilson Rojas menjadi modal awal yang sangat bagus, tetapi satu kemenangan belum cukup untuk langsung mempertemukannya dengan petarung papan atas. Bilal harus membuktikan bahwa performa impresifnya bukan sekadar hasil dari satu pertandingan, melainkan bagian dari konsistensi yang dapat bertahan dalam jangka panjang.
Rekor 10-0 menjadi salah satu modal terbesar Bilal dalam membangun reputasinya. Dari 10 kemenangan tersebut, sebagian besar diraih melalui penyelesaian sebelum pertandingan berakhir sehingga memperlihatkan kemampuan finishing yang sangat kuat. Ia juga memiliki pengalaman di berbagai aspek MMA, bukan hanya mengandalkan pukulan. Ketika menghadapi Rojas, Bilal memperlihatkan kemampuan membaca momentum pertarungan sebelum akhirnya mengakhiri pertandingan melalui pukulan tangan kanan pada ronde kedua. Gaya bertarung agresif tersebut dapat menjadi nilai jual yang membantu Bilal mendapatkan perhatian UFC apabila ia mampu mempertahankan hasil positif.
Namun, persaingan di UFC tidak hanya ditentukan oleh jumlah kemenangan. Kualitas lawan yang dikalahkan menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan seberapa cepat seorang petarung dapat naik peringkat. Bilal perlu mulai menghadapi lawan yang memiliki posisi lebih tinggi agar dapat membuktikan kemampuannya melawan petarung dengan level berbeda. Kemenangan atas petarung yang berada di luar peringkat mungkin tetap penting untuk menjaga momentum, tetapi kemenangan atas nama yang lebih kuat akan memberikan dampak lebih besar terhadap jalur kariernya. Karena itu, pemilihan lawan dalam beberapa pertandingan berikutnya akan menjadi salah satu bagian penting dari perjalanan Bilal.
Aktivitas bertanding juga dapat memainkan peranan besar dalam perjalanan Bilal. Joshua Van sebelumnya mampu melaju cepat karena sangat aktif bertanding dan terus mengumpulkan kemenangan dalam periode relatif singkat. Bilal juga perlu menjaga ritme pertandingan setelah berhasil mendapatkan kontrak UFC dan memenangkan debutnya. Namun, aktivitas tinggi tetap harus diimbangi dengan pemulihan fisik yang tepat karena pertandingan MMA memberikan tekanan besar terhadap tubuh. Bilal tidak hanya perlu mengejar jumlah pertandingan, tetapi juga memastikan setiap pertarungan dijalani dalam kondisi fisik dan mental yang optimal.
Salah satu keuntungan Bilal adalah usianya yang masih 25 tahun. Ia masih memiliki banyak waktu untuk mengembangkan kemampuan sebelum mencapai masa puncak seorang petarung MMA. Pengalamannya bersama tim dan kesempatan berlatih dengan petarung berpengalaman juga dapat membantu meningkatkan kualitas permainannya. Seiring bertambahnya pengalaman, Bilal dapat memperbaiki aspek-aspek yang masih kurang sekaligus semakin matang dalam membaca strategi lawan. Jika perkembangan tersebut berjalan konsisten, peluang untuk masuk ke papan atas kelas flyweight dalam beberapa tahun mendatang tetap sangat terbuka.
Selain kemampuan bertarung, Bilal juga memiliki perhatian besar dari penggemar Indonesia. Statusnya sebagai salah satu petarung yang membawa nama Indonesia di UFC membuat setiap pertandingannya mendapatkan sorotan lebih luas. Kemenangan spektakuler dalam debutnya semakin meningkatkan popularitas tersebut dan membuat banyak penggemar mulai mengikuti perjalanan kariernya. Dukungan publik dapat menjadi energi positif, tetapi Bilal tetap harus fokus terhadap proses profesionalnya di dalam arena. Tekanan dan ekspektasi yang semakin besar justru dapat menjadi ujian mental ketika ia mulai menghadapi lawan yang berada di peringkat lebih tinggi.
Jalur menuju perebutan gelar tentu tidak dapat dicapai hanya dengan satu atau dua kemenangan. Bilal kemungkinan harus melewati beberapa tahap, mulai dari mempertahankan rekor kemenangan, menghadapi petarung yang memiliki peringkat lebih tinggi, kemudian masuk ke jajaran 15 besar sebelum berusaha menembus lima besar. Setiap kemenangan akan meningkatkan posisi tawarnya dalam menentukan lawan berikutnya. Jika ia mampu mendapatkan kemenangan spektakuler secara konsisten, UFC dapat memiliki alasan untuk mempercepat jalurnya menuju pertarungan melawan petarung peringkat atas. Namun, jika menghadapi kekalahan, proses tersebut tentu dapat kembali melambat dan memaksanya membangun momentum dari awal.
Pertandingan debut melawan Nilson Rojas juga memberikan gambaran mengenai potensi Bilal. Rojas datang dengan catatan tidak terkalahkan dan menjadi lawan yang cukup menarik untuk pertandingan pertama Bilal di UFC. Bilal mampu mengatasi tekanan tersebut dan mengakhiri laga melalui KO pada ronde kedua. Kemenangan itu menunjukkan bahwa dirinya tidak mudah terpengaruh oleh status pertandingan sebagai debut UFC. Kemampuan mempertahankan ketenangan dan mencari momentum hingga menemukan peluang untuk mengakhiri pertarungan menjadi salah satu aspek yang membuat debutnya mendapat perhatian besar.
Dengan kondisi tersebut, peta persaingan kelas terbang UFC saat ini dapat disebut sangat kompetitif tetapi sekaligus memberikan peluang bagi pendatang baru. Joshua Van menjadi target utama sebagai pemegang sabuk, sementara sejumlah mantan juara dan penantang elite masih berada di sekitar papan atas. Di bawah mereka terdapat kelompok petarung muda yang sedang berlomba mendapatkan posisi lebih baik dan berusaha membangun momentum menuju perebutan gelar. Bilal Hasan kini masuk ke dalam generasi baru tersebut setelah mencatat kemenangan pada debut UFC. Jalan menuju papan atas masih panjang, tetapi dengan rekor sempurna 10-0, kemampuan finishing yang kuat, usia muda, serta kemenangan impresif dalam debutnya, Bilal memiliki modal yang cukup untuk mulai membangun jalur menuju persaingan elite kelas terbang UFC.