Jakarta, 26 September 2026 – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyiapkan sejumlah sumber energi alternatif untuk mengurangi konsumsi LPG 3 kilogram. Pilihan yang dikembangkan mencakup compressed natural gas (CNG) 3 kg, jaringan gas rumah tangga atau jargas, kompor listrik, serta pembangunan infrastruktur pipa transmisi. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah mengurangi ketergantungan terhadap LPG impor tanpa mengabaikan kebutuhan energi masyarakat. Pengembangan alternatif akan dilakukan secara bertahap karena peralihan dari LPG tidak dapat dilaksanakan sekaligus.
Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM Ahmad Erani Yustika mengatakan pengembangan CNG akan mulai mendapatkan perhatian lebih besar pada 2027. Pemerintah harus menjaga keseimbangan antara upaya mengurangi ketergantungan impor dengan ketersediaan pasokan energi domestik dan stabilitas harga. Karena itu, pengurangan penggunaan LPG 3 kg akan diikuti penyediaan pilihan energi yang dapat digunakan masyarakat. Jargas dan kompor listrik turut dipersiapkan sebagai bagian dari diversifikasi tersebut.
Kebijakan tersebut berkaitan dengan kesepakatan pemerintah dan Badan Anggaran DPR mengenai volume LPG 3 kg pada 2027 sebesar 8 juta metrik ton. Jumlah tersebut lebih rendah dibandingkan usulan awal pemerintah yang mencapai sekitar 8,9 juta metrik ton. Besaran 8 juta metrik ton juga sama dengan kuota LPG bersubsidi yang ditetapkan dalam APBN 2026. Kondisi itu membuat pemerintah perlu mengendalikan pertumbuhan konsumsi sekaligus memastikan masyarakat tetap memperoleh pasokan energi yang memadai.
Tantangan pengendalian konsumsi terlihat dari proyeksi penyaluran LPG 3 kg sepanjang 2026. Kementerian ESDM memperkirakan konsumsi mencapai sekitar 8,6 juta ton, sedangkan realisasi penyaluran sampai Juli tercatat 5,05 juta ton. Hingga akhir tahun, penyaluran diproyeksikan mencapai 8,677 juta ton atau 108,46 persen dari kuota 8 juta ton. Proyeksi tersebut menunjukkan kebutuhan LPG bersubsidi masih berada di atas volume yang dialokasikan pemerintah.
CNG menjadi salah satu alternatif yang dipertimbangkan karena Indonesia memiliki sumber gas bumi domestik yang dapat dioptimalkan. Konsumsi LPG nasional berada di kisaran 8,6 juta ton per tahun, sementara produksi domestik hanya sekitar 1,6 juta hingga 1,7 juta ton. Kekurangan kebutuhan tersebut selama ini sebagian besar dipenuhi melalui impor. Pemanfaatan gas domestik melalui CNG diharapkan dapat mengurangi kebutuhan impor sekaligus memperkuat kemandirian energi nasional.
Pemerintah juga tengah menyusun mekanisme distribusi CNG 3 kg agar dapat dijangkau masyarakat. Salah satu skema yang dikaji adalah tabung tetap menjadi milik badan usaha atau pemasok sehingga konsumen tidak perlu membeli tabung ketika mulai menggunakan CNG. Masyarakat nantinya dapat menggunakan tabung dengan mekanisme peminjaman, sementara jumlah tabung untuk setiap rumah tangga akan diatur. Skema tersebut masih dipersiapkan bersama aspek teknis dan infrastruktur pendukung sebelum penerapannya diperluas.
Selain CNG, pembangunan jargas tetap menjadi instrumen penting untuk menggantikan sebagian konsumsi LPG rumah tangga. Pemerintah menilai pemanfaatan gas bumi melalui jaringan pipa dapat menekan impor, subsidi energi, sekaligus memberikan alternatif pasokan langsung kepada masyarakat. Implementasinya membutuhkan pembangunan infrastruktur yang bertahap dan disesuaikan dengan kesiapan masing-masing wilayah. Dengan kombinasi CNG, jargas, kompor listrik, dan penguatan jaringan transmisi, pemerintah berharap konsumsi LPG 3 kg dapat ditekan tanpa mengganggu akses masyarakat terhadap energi rumah tangga.