Depok, 31 Juli 2026 – Pelajar di Kota Depok direncanakan mulai mendapatkan pembelajaran mengenai pengolahan sampah organik berbasis maggot pada 2027 sebagai bagian dari upaya memperkuat pendidikan lingkungan sejak usia sekolah. Program tersebut diarahkan agar siswa tidak hanya memahami pentingnya memilah sampah, tetapi juga mengenal metode pengolahan limbah organik yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Maggot atau larva lalat Black Soldier Fly dapat membantu mengurai berbagai jenis sisa organik sehingga volumenya berkurang sebelum berakhir di tempat pemrosesan akhir. Sekolah diharapkan menjadi ruang pembelajaran sekaligus tempat praktik pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab. Melalui program tersebut, kebiasaan mengurangi dan mengolah sampah diharapkan tumbuh sejak siswa berada di lingkungan pendidikan.
Pembelajaran berbasis maggot dapat dimulai dengan mengenalkan siswa pada pemilahan sampah berdasarkan jenisnya. Sisa makanan, buah, sayuran, dan bahan organik tertentu perlu dipisahkan dari plastik, logam, kaca, serta limbah lain yang tidak dapat diberikan sebagai bahan penguraian. Pemilahan dari sumber menjadi langkah penting karena sampah yang sudah tercampur lebih sulit diolah secara efektif. Siswa dapat mempelajari proses tersebut melalui kegiatan praktik sehingga tidak hanya memahami konsep dari buku pelajaran. Kebiasaan yang terbentuk di sekolah kemudian dapat diterapkan di rumah bersama keluarga.
Penggunaan maggot menawarkan pendekatan yang menarik karena siswa dapat mengamati secara langsung proses biologis penguraian bahan organik. Mereka dapat mempelajari siklus hidup serangga, hubungan organisme dengan lingkungan, hingga perubahan limbah menjadi sumber daya yang memiliki nilai guna. Pembelajaran tersebut dapat dikaitkan dengan pelajaran ilmu pengetahuan alam maupun kegiatan proyek lingkungan. Sekolah juga dapat menggunakan data jumlah sampah organik yang berhasil diolah sebagai bahan pembelajaran matematika dan penelitian sederhana. Dengan demikian, pengelolaan sampah dapat menjadi kegiatan lintas mata pelajaran.
Program ini juga berpotensi mengurangi volume sampah yang berasal dari lingkungan sekolah. Kantin menjadi salah satu sumber limbah organik yang dapat dikelola apabila sistem pemilahan berjalan dengan baik. Sisa makanan yang sesuai dapat diarahkan menuju fasilitas budidaya maggot daripada langsung dibuang bersama sampah lainnya. Hasil penguraian kemudian dapat dimanfaatkan sesuai kebutuhan dan standar pengelolaan yang diterapkan. Pendekatan tersebut memberikan gambaran kepada siswa mengenai konsep ekonomi sirkular, ketika material yang sebelumnya dianggap limbah dapat kembali memiliki manfaat.
Meski demikian, penerapan budidaya maggot di sekolah membutuhkan prosedur yang jelas. Lokasi pengolahan perlu ditata agar tidak mengganggu kegiatan belajar, memiliki sirkulasi yang memadai, serta mudah dibersihkan. Jenis dan jumlah bahan organik yang dimasukkan juga harus dikontrol untuk menjaga proses penguraian berlangsung dengan baik. Guru dan petugas sekolah membutuhkan pelatihan sebelum mendampingi siswa menjalankan kegiatan. Standar kebersihan menjadi bagian penting agar fasilitas pendidikan tetap nyaman bagi seluruh warga sekolah.
Keterlibatan siswa dapat dibuat bertahap sesuai usia dan tingkat pendidikan. Pelajar usia lebih muda dapat diperkenalkan pada kebiasaan memilah sampah dan memahami proses penguraian secara sederhana. Sementara siswa pada tingkat lebih tinggi dapat mempelajari pengelolaan budidaya, pencatatan hasil, hingga potensi pemanfaatan produk akhirnya. Pendekatan tersebut membuat materi tidak berhenti pada kampanye menjaga kebersihan. Siswa memperoleh pengalaman melihat hubungan antara perilaku konsumsi, produksi sampah, pengolahan, dan dampaknya terhadap lingkungan.
Pendidikan pengolahan sampah juga dapat diperluas melalui keterlibatan orang tua dan masyarakat sekitar sekolah. Siswa yang telah memahami pemilahan dapat membawa kebiasaan tersebut ke rumah sehingga dampak program tidak terbatas di lingkungan pendidikan. Sekolah dapat menjadi pusat edukasi dengan menunjukkan metode pengolahan yang dapat diterapkan dalam skala sederhana. Kolaborasi dengan komunitas lingkungan maupun pihak yang memiliki pengalaman budidaya maggot dapat membantu meningkatkan kualitas kegiatan. Evaluasi secara berkala diperlukan untuk mengetahui jumlah sampah yang berhasil dikurangi serta kendala yang ditemukan selama pelaksanaan.
Rencana mengajarkan pengolahan sampah berbasis maggot kepada siswa Depok mulai 2027 menjadi peluang membangun generasi yang lebih memahami persoalan lingkungan melalui pengalaman langsung. Program akan memberikan dampak lebih besar apabila berjalan bersama pemilahan sampah, pengurangan penggunaan material sekali pakai, dan pengelolaan limbah yang konsisten di sekolah. Maggot menjadi salah satu metode untuk menangani sampah organik, sementara perubahan kebiasaan tetap menjadi tujuan utama pendidikan lingkungan. Dengan dukungan guru, pemerintah, keluarga, dan masyarakat, sekolah dapat menjadi tempat tumbuhnya praktik pengelolaan sampah yang kemudian diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Langkah tersebut diharapkan ikut membantu Depok mengurangi beban sampah sekaligus membangun kesadaran lingkungan sejak usia sekolah.